Langsung ke konten utama

Time to go


Untuk pertama kalinya setelah jatuh bangun, akhirnya aku menggerakan jemariku untuk menulis kembali. Pada malam yang gelap dengan musik melankolis juga gemercik air dari daun setelah hujan. Hari ini satu hari sebelum hari terakhir di tahun 2018, hai kamu apa kabar ? Semoga baik-baik saja, aku pun begitu. Setelah sekian lama tak menyapamu, semoga Tuhan selalu melindungimu juga hatimu. Saya tidak tau akan menamai tulisan ini apa, ucapan terakhir padamu atau sekedar surat harapan terakhir untukmu. Pertama aku akan mengucapkan terima kasih padamu, terima kasih telah mewarnai hidupku beberapa tahun terakhir. Terima kasih telah menjadi tokoh utama dalam setiap tulisan-tulisanku. Terima kasih telah menerima pesan-pesanku meskipun aku tau mungkin sebenarnya kamu tak mengharapkan itu. Terima kasih karena dengan senang hati membuka pintu hatimu ketika aku datang, meskipun terkadang hanya pesan yang tak terbalas atau sekedar balasan singkat yang membuatku mengurungkan niat untuk bercerita panjang lebar padamu. Namun, itu sudah cukup bagiku. Terima kasih telah membuatku menjadi penulis amatir dari cerita cerita yang kau buat padaku. Meski hatiku sakit, tapi jemariku menyukainya. Kau telah membuatku menjadi sosok penulis sederhana dan kadang aku suka.
Kedua, mungkin memang sekarang saatnya aku dan hatiku pamit darimu. Walau apapun sudah tiada tempat dalam hatimu untukku. Saya bahagia pernah mengenalmu, saya senang Tuhan pernah mempertemukan denganmu. Darimu saya belajar, bahwa hati itu dipilih bukan memilih. Sekuat apapun kalau aku memilih aku tak akan pernah memilikinya karena hatiku tak pernah dipilih. Darimu juga aku belajar bahwa seseorang akan sampai di suatau titik dimana ia akan berhenti. Berhenti mencari, berlari, dan berusaha. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun ke depan saya akan mengenangmu sebagai orang baik dengan bingkai kenangan yang indah. Beberapa tahun kemudian, atau mungkin ketika kamu membaca ini, berbahagialah pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus, pernah ada seseorang yang dengan sabar menunggumu diujung pintu meski kau tak pernah datang, pernah ada seseorang yang memberimu sinar yang hangat meski engkau selalu menghindar. Kalaupun suatu saat kau ingin datang, datanglah tapi aku tidak berjanji masih dengan keadaan yang sama seperti sekarang. Aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat, di hari terakhir yang menutup 2018 aku pun juga akan menutup hatiku darimu. Karena sudah sepantasnya saya pergi, sudah seharusnya saya menghilang darimu. Tidak, saya tidak akan menjadi orang baru, hanya saja, mungkin saya perlu melupa hal-hal yang tidak perlu, dirimu misalnya. Aku rasa selamanya hatiku tidak akan pernah bahagia dengan mengharapkanmu. Untukmu Tuan.. mungkin kau tak pernah menganggapku hadir, tapi dengan tulus dan niat saya pernah berjalan kearahmu, hanya saja kau mengabaikanku. Aku dan sepenuh hatiku izin pergi darimu. Aku tau mungkin batinmu dalam hati bilang atau tidak bilang akan sama sama tidak penting bagimu. Namun, suatu saat kau akan sadar ada seseorang yang pernah menyimpan namamu dengan sepenuh hatinya menahun hingga ia lelah dan menyerah. Tertanda, hati yang lelah.

Source picture : unplash

Komentar