Selamat malam kepada pecinta kopi,
penunggu malam, atau manusia-manusia pecinta tengah malam. Hai.. sedang apa
kamu saat ini? Menyelesaikan tugas-tugas kuliah? Belajar untuk UTS? Merancang
rencana sepuluh atau dua puluh tahun kedepan? Atau.. terjebak rindu dengan
seseorang yang entah rindu denganmu atau tidak. Apapun itu aku selalu berharap
kamu selalu baik-baik saja, baik sehatmu atau fisikmu juga hatimu.
Maret hampir berakhir yang berarti
hampir satu bulan aku menempuh semester dua. Banyak cerita yang membuatku sadar.
Anggapanku terhadap seseorang stuck pada
suatu tempat ternyata tidak sepenuhnya benar.. dan yaa.. everyone change everytime. Aku inget perkataan seseorang bahwa
manusia itu seperti koin yang memiliki dua sisi. Ketika kita bertemu dengan
mereka dan men-judge mereka seperti
apa yang kita lihat pertama kali, mungkin itu adalah sisi pertama. Kita belum
tau bagaimana dengan sisi kedua mereka. Oleh karena itu, aku salah, aku salah
telah menilai seseorang seperti apa yang aku lihat pertama kali. Nyatanya,
orang-orang yang aku nilai seperti apa yang aku lihat, nggak, mereka nggak
selamanya kayak gitu kok.
“Aku nggak mau sama kamu” rasanya
kayak digaplok dapet kalimat ini hehe. Menjadi seseorang yang baperan sulit
bagi aku buat “merasa bodo amat” dengan hal-hal yang nyakitin kayak gini. Namun
yaa.. gimana lagi. Udah terlanjur masuk ke hati, akhirnya juga mentok yaudahlah
lama lama juga terbiasa hehe. Sulit bagi aku menjadi seseorang yang dibenci
oleh orang lain. Apalagi kalo ketemu orangnya, pengen kabur rasanya, gak kuat
liatnya, selalu ngerasa jadi pengganggu di matanya. Sedikitpun aku gak benci
kok sama dia, cuma kadang pengen kabur aja udah daripada liat orangnya apalagi
ngomong sama dia. Aku sadar mungkin sikapku ini salah, tapi aku juga gatau mau
gimana lagi, akhirnya cuma bisa diem sambil ngehindar.
Hari-hari berlanjut, pre-test, asistensi praktikum, dan
tugas-tugas sudah mulai berdatangan. Dimana-mana deadline dan kerja kelompok
hampir setiap hari ada. Enggak, aku nggak ngeluh kok, cuma aku dapet pelajaran
dari salah satu kelompok bahwa ternyata marah tidak pernah menyelesaikan
masalah dan membenci seseorang bukan akhir dari bagian cerita, dalam kerja
kelompok mungkin kita selalu berharap buat dapet orang-orang rajin, pinter, dan
orang-orang yang deket sama kita. Aku pun selalu berharap seperti itu, tapi
akhirnya aku sadar, kelompok dibuat bukan sekedar untuk menyelesaikan tugas tapi
juga membiarkan kita untuk belajar memahami karakter seseorang. Kita semua
teman kita semua sahabat, nggak ada alasan buat nggak mau kelompokkan sama
siapapun, karena kadang menjadi pemilih itu malah cenderung mengkotak-kotakan manusia.
Sebagai mahasiswa dari prodi yang
katanya ter-sibuk cuma bisa bilang “udah nikmatin aja, ntar lama-lama juga
biasa hehe”.
Semangat!!
Komentar