Langsung ke konten utama

Kedai Kopi



Semua orang akan sampai pada satu fase dimana ia tak ingin sendiri, terlepas dari perihal cinta, saya percaya bahwa semua orang di dunia ini selalu memiliki naluri untuk bersama. Entah itu bersama teman, sahabat, keluarga, atau bahkan pasangan. Saya menyempatkan diri untuk pergi pada sebuah kedai kopi dan menikmati sebuah keramaian. Aroma kopi yang khas membuatku suka pada ruangannya. Pegawai yang ramah dan tempat yang nyaman. Dinding kaca itu membuatku bisa menikmati jalanan di depannya. Saya tak menemukan sedikitpun sepi disini melainkan hatiku sendiri. Meskipun terkadang aku tak mempersalahkannya. Namun selalu ada satu waktu dimana aku merasa, ternyata menjadi sendiri tak sesederhana yang aku kira. Terlebih ketika melihat banyak pasangan yang saling menjalin kasih sayang di depan umum. Namun, pada akhirnya aku selalu sadar, bahwa semua manusia di dunia ini pada akhirnya akan mendapatkan pasangannya masing-masing. Tuhan memberikan kita waktu yang berbeda-beda dalam menemukan kita pada orang-orang terkasih. Saya percaya, selalu percaya, dan selamanya akan percaya. 

Sepi. Saya suka sepi, saya suka ketika tiada suara, terlebih ketika malam hari, karena pada saat itu, saya bisa merangkai kata sebanyak-banyaknya. Karena dalam ketenangan saya bisa mengenali diri saya sendiri dan berbicara dengan diri sendiri apa yang akan saya lakukan di kemudian hari. Sendiri membuat saya berfikir untuk terus bermimpi dan berusaha untuk selalu mewujudkannya. Mungkin sebagian orang tak menyukainya. Sebagian orang memilih untuk datang dan mengetuk pintu temannya dan meminta untuk menemani daripada sendiri. Namun, tidak bagiku, saya lebih suka berjalan sendiri, berpergian sendiri dan melakukan apapun sendiri. Meskipun dalam satu waktu saya merasa tidak ada seseorang yang bisa saya ajak bicara. 

Aku memandangi jalanan yang kian sepi, tapi tidak pada kedai ini. Malam yang larut membuat kedai kian ramai, seperti yang kalian tahu orang-orang percinta malam akan mendapatkan temannya disini, kopi. Musik itu mengalun membelah suara-suara pengunjung yang semakin malam semakin keras. Sesekali aku mendengar mesin kopi itu bersuara. Kulihat berberapa pegawai kesana-kemari mengantarkan kopi pesanan pengunjung. Mereka tersenyum dan ramah dalam melayani. Dua wanita didepanku sibuk berpose selfie dengan kopi yang dipesannya. Ya, kita tahu memang perempuan selalu identik dengan foto, bahkan dirikupun suka berfoto. Namun, sekarang aku memilih duduk dan menulis beberapa hal yang aku suka, seperti sekarang. Tiga wanita di belakangku asyik berbicara seakan teman lama yang baru bertemu. Ya, aku paham rasanya rindu. Tiga per empat kopi berhasil ku seduh. Beberapa orang menyudahi perbincangan mereka dan membuka pintu masuk untuk pulang. Sementara aku, jemariku masih asyik menari dan menulis banyak hal. Keramaian kali ini rupanya membuatku banyak berimajinasi.

Es Kopi Maling. Nama yang lucu, aku memesannya karena kopi espresso tidak ada. Kopi ini disajikan hanya dalam bentuk cup, entah apa alasannya. Bicara tentang kopi, entah kenapa aku mulai menyukainya sejak SMA dan sekarang aku makin menyukainya untuk menemani malam-malamku yang sibuk. Aku suka harumnya, aku suka warnanya, dan aku suka karena kopi membuat mataku terus terjaga dan membuatku menulis banyak kata-kata. Ya pada intinya kopi seperti sahabatku. Kita semua tau kopi tidak sehat, tetapi entah.. tidak ada alasan yang membuatku tidak menyukainya.

Seperti halnya jatuh hati pada kopi, aku pun pernah jatuh hati pada manusia. Entah mengapa ia membuatku tak jatuh hati lagi kepada siapapun. Seringkali aku mengagumi seseorang, tapi tidak untuk jatuh cinta. Banyak laki-laki baik di sekelilingku, tapi tak satupun aku jatuh cinta. Jika semesta masih mengizinkan kita untuk bertemu, aku hanya ingin menanyakan satu hal. "Siapa kah yang ada dihatimu saat ini?". Kalaupun hingga aku menghembuskan nafas terakhirku aku tak menemuimu kembali, aku hanya berharap semoga engkau selalu bahagia dengan siapapun itu. Dan.. tunggu buku-ku ya, banyak pesan-pesan yang ingin kusampaikan, tetapi dirimu terlalu cepat menghilang. 

Aku masih menulis dan memandangi jalanan di depan kedai. Seorang laki-laki berbaju merah maroon itu berjalan dan menggendong sebuah tas. Aku melihatnya sekilas, tak lama kemudian ia memandangku dan tersenyum, aku hanya membalasnya dengan muka datar dan mengangguk lalu melanjutkan tulisanku.

Source picture : unplash


            

Komentar