Langsung ke konten utama

Cerita akhir tahun

Nggak ada yang istimewa tahun ini, karena memang nggak ada senang yang berarti buat saya. Teman ya masih itu itu aja, tetap setia menyendiri kayak orang solo travelling yang buta arah. Kayaknya analoginya nggak pas, tapi ya, yaudah gak tau lagi mau nganalogiin sama apa lagi. Semua orang bilang kalau tahun ini paling mengecewakan, ya mungkin memang begitu. Tapi saya rasa nggak seharusnya kita marah sama semesta karena Tuhan sudah mintanya begitu. Selalu ada hal baik yang nggak kita sadar di antara banyaknya hal menyebalkan. Mungkin memang Tuhan sedang meminta kita untuk duduk sebentar. Untuk sebentar saja tidak kemana-mana, untuk sebentar saja kita lebih mengenal pada diri sendiri, untuk sebentar saja kita menyadari bahwa alam juga butuh waktu jeda tanpa kunjungan manusia. 

Hari-hari di penghujung tahuan ya seperti biasanya, nggak ada perayaan apa-apa. Tidur di kamar, dengerin spotify, dan membaca buku. Nggak ada yang perlu dirayain karena ya, ini hanya masalah ganti hari. Nggak ada daftar resolusi karena saya tahu pasti saya akan lupa dan nggak terlaksana. Kadang suka batin sama diri sendiri, hidup saya terlalu datar. Mungkin karena saya terlalu memandang biasa pada suatu hal yang dipandang istimewa oleh orang lain. Kalaupun saya mau ngerayain, toh apa juga yang harus dirayain. Keluarga saya overprotective, bertemu teman saja kadang harus ditanyain detail, apalagi malam tahun baruan yang pasti kumpul malam. Nggak ada hal lain selain patuh, meskipun sebenarnya saya nggak nyaman dan nggak suka.

Banyak rencana-rencana yang gagal tahun ini. Banyak keinginan yang rasanya ilang gitu aja, dan tentunya banyak sedih yang nggak tahu kapan berakhir. Saya juga nggak paham sama perasaan saya sendiri. Rasanya pengen jadi donald bebek, pergi ke timbuktu, semedi sebentar, lalu pulang-pulang saya jadi manusia paling bahagia di bumi. Banyak "yaudah" dan "gapapa" yang harus diungkapkan. Karena saya tahu, beberapa hal kadang cuma bisa kita biarin gitu aja, besok juga sembuh sendiri, besok juga baik sendiri. Mungkin jadi nyoba dewasa gitu kali ya, nyoba buat ga terlalu fokus sama hal yang udah nggak bisa diubah lagi, and then move on to the better things.  Rasaya kayak, di depan mata udah ada laut yang bakal nangkep kita dan kita udah pasrah, rela mau jatuh. Makin kesini makin realistis aja jadi manusia, liat segala keuwuan di medsos ya makin biasa aja. Ekspektasi juga nggak tinggi-tinggi amat. Pengennya cuman, cukup hidup tenang, nggak ada masalah. Ya, meskipun saya tahu, kita nggak mungkin gapunya masalah. Tapi seenggaknya saya senang, karena beberapa teman saya udah sold out wkwkwk. Teman yang biasanya sambat tentang apapun sama saya. Ya saya sedikit senang karena dia udah nggak kebanyakan cerita sedih sama saya. Tapi jangan tanya saya gimana ya, udah jelas jawabannya dari awal paragraf wkwk. Bagi saya, kalau sampai tahun depan saya masih disuruh sendiri sama Tuhan, ya gapapa. Barangkali bahagia saya enggak datang dari hal itu, tapi hal lain yang nggak kebayang sama saya. Ditanya pengen punya pacar apa enggak, ya pasti taulah jawabannya, siapa juga yang nggak pengen. Cuman, buat saya, enggak jadi prioritas aja. Kalau ada orang dateng dan mau memulai cerita sama saya, ya ayo ayo aja, dan kalaupun sampai tahun depan, dua tahun, tiga tahun bahkan mungkin lima tahun ke depan nggak ada orang datang. Ya gapapa, mungkin memang Tuhan maunya begitu. Karena kalau kata filsuf stoa kita sebagai manusia gaboleh melawan hukum alam. 

Mungkin tahun ini tahun paling capek, karena harus apa apa sendirian. Praktikum sendiri, bikin laporan sendiri. Tapi seenggaknya saya bersyukur, masih dikasih sehat buat melewati semester ini dengan baik. Saya juga membaca buku lebih banyak, belajar banyak hal, dan tentunya terus menulis di renjana. Sebenernya nggak jadi masalah juga kalau apa-apa harus sendirian, karena sayapun seneng ngapa-ngapain sendirian. Bukan, bukan karena saya gapunya teman, ya taulah rasanya, orang yang kalau seneng sama sesuatu pasti jawabnya cuman "gatau seneng aja". 

Kalau tahun depan ada bahagia yang datang, cuman berharap bahagia itu ada pada waktu yang lama. Kalaupun bahagia itu cuman sebentar, ya semoga selalu dikasih sabar yang luas sama semesta. Tapi, kalau nggak ada bahagia, semoga ada pelajaran yang bisa saya ambil. Saya cuman berharap di tahun-tahun berikutnya, senang bisa ngambil porsi lebih banyak, itu saja.

Yogyakarta, 30 Desember 2020. 


Source picture : unplash



Komentar