Seperti lembaran kertas kosong, yang kemudian dipakai untuk menulis, meskipun kita nggak tau, setelahnya akan dihapus, atau dibiarkan tetap disitu... atau justru kertas bertulisan itu dipajang di depan pintu agar semua orang membaca.
Hatikupun, ternyata begitu.
Beberapa kali senang karena orang datang, menyapa, tapi
ternyata semua orang itu hanya datang, iya sekedar mampir. Salahku memang,
karena terlalu banyak berharap. Nggak seharusnya menaruh rasa yang lebih untuk
seseorang yang...kita masih nggak tau, udah serius atau masih bercanda.
Rasanya seperti kertas kosong, yang kemudian dipakai untuk
menulis, dipajang didepan pintu, lalu kemudian dibuang. Ya, sepatah itu..
Tapi bukankah semesta akan selalu mengganti segala hal yang
hilang? Entah dengan sesuatu yang sama tapi versi lebih baik, atau sesuatu yang
lain, yang tentunya lebih baik pula.
Aku selalu percaya kalau suatu saat aku akan sampai pada
suatu fase, dimana aku senang meskipun sendirian, dimana hanya ketenangan yang
aku butuh. Dimana hidup terasa menyenangkan, meski tanpa siapapun.
Aku percaya kalau suatu saat, satu per satu mimpiku akan
tercapai. Dan saat itu, nggak ada yang lebih penting dari pada kebahagiaanku
sendiri.
Mungkin sekarang semesta sedang mematahkan aku sepatah-patahnya, untuk bahagia yang sebahagia-bahagianya aku, kelak.
Source pic : unplash

Komentar