Langsung ke konten utama

Patah

 

Seperti lembaran kertas kosong, yang kemudian dipakai untuk menulis, meskipun kita nggak tau, setelahnya akan dihapus, atau dibiarkan tetap disitu... atau justru kertas bertulisan itu dipajang di depan pintu agar semua orang membaca.

Hatikupun, ternyata begitu.

Beberapa kali senang karena orang datang, menyapa, tapi ternyata semua orang itu hanya datang, iya sekedar mampir. Salahku memang, karena terlalu banyak berharap. Nggak seharusnya menaruh rasa yang lebih untuk seseorang yang...kita masih nggak tau, udah serius atau masih bercanda.

Rasanya seperti kertas kosong, yang kemudian dipakai untuk menulis, dipajang didepan pintu, lalu kemudian dibuang. Ya, sepatah itu..  

Tapi bukankah semesta akan selalu mengganti segala hal yang hilang? Entah dengan sesuatu yang sama tapi versi lebih baik, atau sesuatu yang lain, yang tentunya lebih baik pula.

Aku selalu percaya kalau suatu saat aku akan sampai pada suatu fase, dimana aku senang meskipun sendirian, dimana hanya ketenangan yang aku butuh. Dimana hidup terasa menyenangkan, meski tanpa siapapun.

Aku percaya kalau suatu saat, satu per satu mimpiku akan tercapai. Dan saat itu, nggak ada yang lebih penting dari pada kebahagiaanku sendiri.

Mungkin sekarang semesta sedang mematahkan aku sepatah-patahnya, untuk bahagia yang sebahagia-bahagianya aku, kelak.

Source pic : unplash

Komentar