Saya enggak tahu harus mulai cerita dari mana, karena malam itu saya benar-benar nggak tahu harus ngomong apa. Untuk pertama kalinya setelah saya sengaja menghilang, dia nyoba buat menghubungi saya lagi. Iya, dia yang saya tulis di laman tahun 2018 itu. Dia mengirimi saya pesan "apa kabar" dengan emoticon senyum. Bukannya senang saya justru menangis. Ini lebay, tapi jujur ini pertama kalinya ia mengubungi saya lebih dulu. Dia meminta maaf, saya juga nggak paham kenapa harus minta maaf. Terakhir kali saya pergi karena tau dia dekat dengan orang lain. Saya memilih buat pergi karena sadar diri sejak awal dia enggak pernah naruh perasaan dengan saya. Dan malam itu jadi pengakuan saya, pengakuan saya bahwa saya enggak pernah buat nggak ingat dia, dan selama 8 tahun saya masih dengan perasaan yang sama. Meskipun begitu ia enggak merespon apa-apa kecuali satu kata "ikuti alurnya..." dan tetap kekeh buat bilang bahwa kami cuma bisa sekedar teman. Saya tahu kalau jawabannya itu, cuman seenggaknya dia tau bagaimana sebenarnya perasaan saya. Dan mungkin yang bisa saya lakukan cuma harus bilang nggakpapa. Nggakpapa karena nggak bisa memiliki. Nggakpapa buat ikhlas.
Mungkin memang dunia jalannya harus begitu, menemukan manusia dengan kemustahilan. Kita ditemukan dengan hal yang nggakbisa kita raih untuk kemudian menyadarkan kita bahwa seharusnya berharap itu secukupnya saja. Mungkin memang saya yang harus profesional dengan perasaan saya. Sudah dewasa udah nggak seharusnya menuntut orang lain untuk mengikuti apa maunya kita. Menaruh hati orang lain tanpa harus menuntut mereka untuk memiliki perasan yang sama. Bahwa memaksa kehendak orang lain itu nggak bisa jadi hal baik. Saya sendiri yang menyayangi orang itu menahun maka saya sendiri yang seharusnya menanggung resiko akan perasaan saya. Barangkali, mecoba dewasa dapat dimulai dengan hal sesederhana itu. Manusia mungkin enggak bisa secepat itu buat berdamai dengan rasa sedih, tapi yang saya yakini, sesedih apapun suatu hal, pada akhirnya semesta cuma mau ngajarin hikmah hidup. Bahwa kehidupan enggak pernah baik-baik aja, bahwa cerita manusia enggak selamanya senang, bahwa kadang sedihnya kita bisa jadi bahagianya orang lain juga sebaliknya. Senang sedih enggak pernah absen karena mereka selalu datang di waktu yang tepat, tidak terlambat ataupun lebih cepat. Bahagia kadang harus datang setelah kita mengalami sedih paling sedih juga sebaliknya.
Source picture : unplash

Komentar