Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Patah

  Seperti lembaran kertas kosong, yang kemudian dipakai untuk menulis, meskipun kita nggak tau, setelahnya akan dihapus, atau dibiarkan tetap disitu... atau justru kertas bertulisan itu dipajang di depan pintu agar semua orang membaca. Hatikupun, ternyata begitu. Beberapa kali senang karena orang datang, menyapa, tapi ternyata semua orang itu hanya datang, iya sekedar mampir. Salahku memang, karena terlalu banyak berharap. Nggak seharusnya menaruh rasa yang lebih untuk seseorang yang...kita masih nggak tau, udah serius atau masih bercanda. Rasanya seperti kertas kosong, yang kemudian dipakai untuk menulis, dipajang didepan pintu, lalu kemudian dibuang. Ya, sepatah itu..   Tapi bukankah semesta akan selalu mengganti segala hal yang hilang? Entah dengan sesuatu yang sama tapi versi lebih baik, atau sesuatu yang lain, yang tentunya lebih baik pula. Aku selalu percaya kalau suatu saat aku akan sampai pada suatu fase, dimana aku senang meskipun sendirian, dimana hanya ket...

Untuk menyerah...

Kadang, menyerah terlihat lebih mudah daripada bertahan, sesederhana kita menghancurkan sesuatu yang bisa jadi sudah ditata dengan rapi sebelumnya. Segala sesuatunya terlihat rumit dan jauh, seakan perjalanan tidak memiliki ujung, tapi kita, dipaksa untuk terus melangkah bahkan lari. Beberapa hal diajarkan oleh semesta tanpa kita tau apa maksudnya. Beberapa hal selalu rumit untuk kita telaah apa manfaatnya untuk kita kelak. "Jangan lupa makan..." ujar perempuan tua itu yang menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya menoleh kearahnya, sambil menatap hujan deras di luar ruangan. Ia seperti tahu betul kalau pikiranku sedang rumit-rumitnya. Tak lama kemudian aku menyandarkan kepalaku di depan laptop sembari memandangi hujan yang semakin deras.  Ada perempuan mungil yang tengah berdiri di depan kantor, seperti sedang menunggu seseorang. Aku hanya menatapnya kosong. Tak lama kemudia keluar seorang laki-laki yang menemui perempuan mungil itu. Mereka berpelukan dan tampak bahagia satu sa...

21th

Ini tahun ke 21 saya tumbuh. Tidak ada yang spesial atau terlampau menyenangkan untuk saya tulis. Karena.. ya, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saya masih tetap seperti ini. Perempuan kecil yang banyak mimpi tapi sedikit usaha. Perempuan lemah dengan banyak khayalan di kepalanya. Perempuan kecil yang selalu berusaha menghidupi dirinya sendiri, termasuk membahagiakan dirinya sendiri.  Menyesal, belum banyak hal yang bisa dicapai, setidaknya untuk membuat orang tua saya senang.  Namun, bukankah setiap bertambahnya umur, semua orang selalu mengatakannya? lagi dan lagi.  Kita semua pernah mengutuk diri sendiri gagal, merasa rendah diri dan semena-mena menjatuhkan diri sendiri. Alih-alih bangkit dan percaya diri kemudian berusaha membuktikan, jika diri sendiri tidak selemah itu.  Untuk pertama kalinya merasa sudah dewasa, dan untuk kesekian kalinya merasa belum berguna sepenuhnya sebagai manusia. Meskipun begitu, saya percaya, dan akan selalu percaya dengan mimpi-mimpi...

In another life

"Kamu tahu, kalimat paling sedih di dunia ini?" Perempuan itu menatap langit-langit atap kemudian menggelengkan kepala. "In another life... " ujarnya sambil mengeja pelan kata per kata. "Hmmm.. why?" "In another life.. Kalimat penenang saat kita berharap ketidakmungkinan bisa terjadi hari ini. Ketika semua orang menyakini bahwa beberapa kemustahilan bisa terjadi, suatu saat, mungkin lusa, mungkin tahun depan, atau... di kehidupan selanjutnya. "

Dream

Hai, apa kabar? udah bulan maret aja nih. Kayaknya baru kapan kita ngrayain tahun baru. Nggak tau kenapa suka ngerasa kalau waktu makin kesini makin cepet. Pandemi udah hampir setahun, eh enggak, emang udah setahun. Bulan baru, semester baru, dan merasa semakin tua juga. Rasanya capek, capek banget.  Kemarin sempat ada drama masalah proposal seminar. Minggu pertama masuk udah diumumin urutan maju seminar, dan aku dapet urutan pertama. Down banget rasanya karena belum banyak persiapan. Tapi ternyata bisa melewati itu semua meskipun sempat dicecer pas hari H, tapi ya yaudah gapapa, maklum karena kloter pertama belum banyak persiapan.  Senang-senang susah maju awal itu, senang karena cepat selesai, tapi juga susah karena harus diburu-buru. Bener-bener dua minggu pusing banget mikirin judul, sempat ganti judul karena latar belakang gak sesuai kemauan dosen, ngrombak proposal satu hari, nangis, overthinking masa depan. Tapi alhamdulillah bisa melewati itu semua, dan dari itu semua ...

Move on

Konon katanya orang yang kamu sukai saat kamu umur 16 th akan berpengaruh pada kehidapan kamu selanjutnya. Aku pengen nggak percaya, tapi itu terjadi dan nyata buat saya. Sulit ternyata buat pengen lupa sama masa lalu. Gimana bisa selesai sama masa lalu kalau buat lupa aja nggak bisa. Rasanya setiap udah nemuin orang yang cocok buat dikasih rasa, ujung-ujungnya balik ke orang yang sama. Meskipun orang itu nggak tau gimana kabarnya sekarang.  Tapi hidup kudu tetep muter even hati kita gatau masih ketinggal dimana. Kalau aja ngasih perasaan sama orang lain itu semudah kita pasang copot baterai, kita nggak perlu berusaha lupa dan nggak perlu mikir dua kali buat suka, semua orang nggak bakal tanya sama temennya "gimana caranya move on?" tapi ternyata enggak, enggak semudah itu. Beberapa orang ngasih ruang terlalu banyak buat orang lain hingga saat orang itu pergi, kita sedih dan ngrasa kesepian. Padahal harusnya nggak gitu, suka sama orang lain itu secukupnya.  Move on jadi topik...

Resolusi

Hujan itu tidak selesai-selesai juga sejak tadi pagi. Tembalang yang selalu saja panas tiba-tiba jadi dingin kalau di musim hujan. Panas yang terlalu juga dingin yang terlalu, Tembalang selalu seperti itu.  Ternyata sekarang sudah mulai masuk bulan Februari, waktu terasa secepat itu, padahal baru saja semua orang merayakan pergantian tahun. Berganti bulan, sudah saatnya melihat apakah resolusi bulan lalu benar-benar terlaksana, ternyata tidak satupun. Bahkan resolusi tahunan pun kadang hanya jadi resolusi di atas kertas yang tidak berguna. Resolusi yang ujung-ujungnya sebatas harapan yang enggan untuk dilaksanakan. Ada satu quotes yang selalu saya ingat "you can't go back and change the beginning, but you can start where you are and change the ending." Namun dari kesemuanya itu, setidaknya kita masih bisa memulai segala hal yang tertunda. Bukan menyerah dan melupakannya. Karena kalau menyerah suatu saat pasti akan menyesal. Kalau kita tidak bisa memulai dengan baik, setid...

A friend and loneliness

Kita pasti pernah punya seorang teman yang kepadanya kita bisa bercerita apapun. Seorang teman yang dengannya kita bisa menjadi diri kita sendiri. Seorang teman yang kita bisa berbagi apapun. Sayang, nggak mudah buat bisa ketemu sama orang semacam itu, apalagi kenyataan bahwa semakin dewasa teman semakin sedikit. Ya, semakin sedikit, karena semakin dewasa tujuan setiap orang semakin jelas dan semua orang berjalan ke arah tujuan masing-masing, tujuan yang beda bikin semua orang secara nggak sadar kehilangan temennya sendiri. Nggak perlu nyalahin diri sendiri karena kita ninggalin teman karena ya, udah seharusnya kita nyari teman yang semisi dan sevisi. Memang satu per satu satu teman bakal hilang perlahan seiring kita fokus sama tujuan hidup kita. Ada banyak teman yang sering cerita sama saya, tapi saya jarang cerita sama mereka, mungkin karena saya lebih suka memendam cerita saya sendirian atau kadang cerita yang bikin saya pusing itu terlalu privasi. Saya nggak bisa sembarangan buat c...

Rencana

Pengennya kuliah lancar, lulus tepat waktu 4 tahun, ya rencananya. Namanya juga rencana, dibayangin aja dah nyenengin. Nggak taunya hidup nggak semenyenangkan itu. Harus ada proses, usaha, pake nangis, pake patah hati, pake ada orang nyebelin, dan pake-lainnya yang sampe gabisa buat disebutin. Dulu pas SMA ngerasa kayak hidup udah paling berat-berat nya, ternyata masa-masa kuliah masih lebih berat lagi. Kadang suka nggak ngerti aja kedepan mau gimana. Kalau anak SD mah mesti cita-citanya masuk SMP terbaik, anak SMP pengen masuk SMA terbaik, anak SMA pengen masuk PTN terbaik. Kalo anak kuliah? Ya, kita sendiri yang harus bisa nentuin mau jadi apa, hal apa yang pengen kita raih. Rasanya tu kayak, udah dilepas buat milih jalan kemana, luruskah? belok kanan kah? Belok kiri kah? ya ini, ini yang bikin anak kuliahan pada galau. Khawatir kalau nggak bisa lulus tepat waktu, berdoa cepet lulus, tapi khawatir kalau nggak cepet dapet kerja. Bimbang. Semua hal rasanya abu-abu. Masa-masa kuliah gi...