Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Memaafkan kalah

Nggak mudah buat bertahan sama prinsip diri sendiri kalau prinsip orang di sekitar kita udah beda jauh. Nggak mudah buat tetep jalan seperti maunya kita kalau ternyata langkah orang lain beda jauh sama arah jalan kita. Dan ujung-ujungnya nggak mudah buat jadi diri sendiri. Sekejab berpikir kalau, mungkin emang harus bisa adaptasi, mungkin emang harus ada yang ditingkatin dalam diri sendiri. Tapi, rasanya energinya udah mau abis. Rasanya tu kayak, pengen istirahat bentar tapi orang lain selalu maksa buat lari terus. Dan kalau kita tetep pengen istirahat, kita yang akan kalah. Dan apakah gagal itu memalukan? rasa-rasanya gagal itu terlalu hina buat orang-orang yang selalu ngejar apapun. Hal tidak sempurna yang dirasa jijik untuk seorang achiever.  Ternyata hidup cuma tentang kejar-kejaran, lari-larian, berlomba buat dapet hal paling baik, paling besar, paling tinggi. Ya, ternyata realitanya hidup semacam itu. Mau seyakin apa, sekonsisten apa buat jalan sesampainya, pada akhirnya kita...

Merayakan ketidaksengajaan

  Hari ini mendung, sesekali terdapat garis menyala yang membelah langit seketika. Hujan deras. Angin itu menghantam pepohonan di jalanan. Perempuan itu tengah menunggu hujan reda di depan halte. Sementara seorang laki-laki hendak turun dari bus.  "Enggak naik mbak?" tanya laki-laki itu. "Enggak mas, bus saya masih lama," balasnya dengan sedikit senyum. Jalanan masih terus ramai, tidak peduli hujan ataupun angin. Orang-orang mengejar kesibukan masing-masing. Meyalip sana-sini, berteriak sembari menawarkan beberapa dagangannya, beberapa di antara mereka menunggu hujan di depan toko yang sudah tutup atau sekedar mampir makan bakso untuk mendapat kehangatan. Butir hujan itu memukul-mukul atap halte hingga dua orang itu merasa bising. Perempuan itu merapatkan tangannya untuk menciptakan sedikit rasa hangat. Tak lama kemudian ada taksi datang. Laki-laki itu masuk dengan sedikit melambaikan tangannya pada perempuan itu. Ia menatap lekat punggung laki-laki itu hingga bayan...

Satu hari di antara hari-hari yang panjang

Dan satu detik di antara hari-hari tersebut membicarakan kita. Sudah dewasa katanya. Kerlap-kerlip kehidupan yang membuat kita tumbuh sebagaimana mestinya. Taukah kamu? siapa di antara kita yang tidak bisa tumbuh dengan baik. Kamu tahu jawabannya. Ya, itu aku. Ternyata benar kata seseorang itu, "yang datang tidak pernah menggantikan yang pergi karena kenangan punya tempatnya masing-masing." Kita hanya tokoh yang tidak pernah diceritakan dalam satu buku. Dunia melahirkan kita sebagai manusia yang tidak akan bertemu dalam satu alur cerita. Tidak. Aku tidak pernah menyedihkannya, karena kamu tau aku bisa hidup dengan perasaanku sendiri. Sejak dulu kamu tau kalau, kita bukanlah sepasang yang bisa saling selamanya.   Satu hari diantara hari-hari yang panjang aku menapaki jalan kecil itu (lagi). Bukankah indah jika kita mengingat hal menyenangkan di masa lalu? pertanyaan yang konyol. Cerita masa lalu tidaklah menyenangkan sekalipun indah, karena cerita itu hanya terjadi di masa lal...