Langsung ke konten utama

Memaafkan kalah

Nggak mudah buat bertahan sama prinsip diri sendiri kalau prinsip orang di sekitar kita udah beda jauh. Nggak mudah buat tetep jalan seperti maunya kita kalau ternyata langkah orang lain beda jauh sama arah jalan kita. Dan ujung-ujungnya nggak mudah buat jadi diri sendiri. Sekejab berpikir kalau, mungkin emang harus bisa adaptasi, mungkin emang harus ada yang ditingkatin dalam diri sendiri. Tapi, rasanya energinya udah mau abis. Rasanya tu kayak, pengen istirahat bentar tapi orang lain selalu maksa buat lari terus. Dan kalau kita tetep pengen istirahat, kita yang akan kalah. Dan apakah gagal itu memalukan? rasa-rasanya gagal itu terlalu hina buat orang-orang yang selalu ngejar apapun. Hal tidak sempurna yang dirasa jijik untuk seorang achiever. 

Ternyata hidup cuma tentang kejar-kejaran, lari-larian, berlomba buat dapet hal paling baik, paling besar, paling tinggi. Ya, ternyata realitanya hidup semacam itu. Mau seyakin apa, sekonsisten apa buat jalan sesampainya, pada akhirnya kita selalu ditemukan lawan yang mau nggak mau kita harus hadapi. Meskipun dalam diri sendiri selalu yakin kalau, gapapa buat jalan sebisanya, gapapa buat jalan sekuatnya, tetapi pada akhirnya kita selalu dihadapi dengan sesuatu yang membuat kita merasa paling kecil dan paling rendah. Ternyata nggak semua lingkungan bisa kita hadepin sekenanya, dan malah memaksa kita buat berusaha paling maksimal.

Tapi mau gimanapun, proses kita nggak diukur sama penggaris orang lain. Jalan ya tetep jalan nggak peduli orang lain lebih cepat atau lambat. Hidup tenang emang kadang dimulai dengan nggak peduli sama hal yang bikin kita selalu merasa rendah dan kecil. Harusnya yang menjadi fokus kita itu apa yang bisa kita kontrol bukan hal-hal nggak penting kayak pencapaian orang lain karena itu udah diluar kendali kita.

Kadang kita cuma butuh teman, butuh teman yang bisa relate dan punya kesedihan yang sama. Bahwa ternyata nggak cuma kita yang ngrasain kesedihan itu. Bahwa ternyata kita nggak sendirian ngrasain beban itu. 

Gapapa kalah, gapapa gagal, gapapa belum berhasil, gapapa belum senang, gapapa belum bahagia, karena hidup itu tentang bagaimana kita menjalani, bukan tentang seberapa banyak pencapaian kita. 

Source picture : unplash

 

Komentar