Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Cerita akhir tahun

Nggak ada yang istimewa tahun ini, karena memang nggak ada senang yang berarti buat saya. Teman ya masih itu itu aja, tetap setia menyendiri kayak orang solo travelling yang buta arah. Kayaknya analoginya nggak pas, tapi ya, yaudah gak tau lagi mau nganalogiin sama apa lagi. Semua orang bilang kalau tahun ini paling mengecewakan, ya mungkin memang begitu. Tapi saya rasa nggak seharusnya kita marah sama semesta karena Tuhan sudah mintanya begitu. Selalu ada hal baik yang nggak kita sadar di antara banyaknya hal menyebalkan. Mungkin memang Tuhan sedang meminta kita untuk duduk sebentar. Untuk sebentar saja tidak kemana-mana, untuk sebentar saja kita lebih mengenal pada diri sendiri, untuk sebentar saja kita menyadari bahwa alam juga butuh waktu jeda tanpa kunjungan manusia.  Hari-hari di penghujung tahuan ya seperti biasanya, nggak ada perayaan apa-apa. Tidur di kamar, dengerin spotify, dan membaca buku. Nggak ada yang perlu dirayain karena ya, ini hanya masalah ganti hari. Nggak ada...

Memaafkan kalah

Nggak mudah buat bertahan sama prinsip diri sendiri kalau prinsip orang di sekitar kita udah beda jauh. Nggak mudah buat tetep jalan seperti maunya kita kalau ternyata langkah orang lain beda jauh sama arah jalan kita. Dan ujung-ujungnya nggak mudah buat jadi diri sendiri. Sekejab berpikir kalau, mungkin emang harus bisa adaptasi, mungkin emang harus ada yang ditingkatin dalam diri sendiri. Tapi, rasanya energinya udah mau abis. Rasanya tu kayak, pengen istirahat bentar tapi orang lain selalu maksa buat lari terus. Dan kalau kita tetep pengen istirahat, kita yang akan kalah. Dan apakah gagal itu memalukan? rasa-rasanya gagal itu terlalu hina buat orang-orang yang selalu ngejar apapun. Hal tidak sempurna yang dirasa jijik untuk seorang achiever.  Ternyata hidup cuma tentang kejar-kejaran, lari-larian, berlomba buat dapet hal paling baik, paling besar, paling tinggi. Ya, ternyata realitanya hidup semacam itu. Mau seyakin apa, sekonsisten apa buat jalan sesampainya, pada akhirnya kita...

Merayakan ketidaksengajaan

  Hari ini mendung, sesekali terdapat garis menyala yang membelah langit seketika. Hujan deras. Angin itu menghantam pepohonan di jalanan. Perempuan itu tengah menunggu hujan reda di depan halte. Sementara seorang laki-laki hendak turun dari bus.  "Enggak naik mbak?" tanya laki-laki itu. "Enggak mas, bus saya masih lama," balasnya dengan sedikit senyum. Jalanan masih terus ramai, tidak peduli hujan ataupun angin. Orang-orang mengejar kesibukan masing-masing. Meyalip sana-sini, berteriak sembari menawarkan beberapa dagangannya, beberapa di antara mereka menunggu hujan di depan toko yang sudah tutup atau sekedar mampir makan bakso untuk mendapat kehangatan. Butir hujan itu memukul-mukul atap halte hingga dua orang itu merasa bising. Perempuan itu merapatkan tangannya untuk menciptakan sedikit rasa hangat. Tak lama kemudian ada taksi datang. Laki-laki itu masuk dengan sedikit melambaikan tangannya pada perempuan itu. Ia menatap lekat punggung laki-laki itu hingga bayan...

Satu hari di antara hari-hari yang panjang

Dan satu detik di antara hari-hari tersebut membicarakan kita. Sudah dewasa katanya. Kerlap-kerlip kehidupan yang membuat kita tumbuh sebagaimana mestinya. Taukah kamu? siapa di antara kita yang tidak bisa tumbuh dengan baik. Kamu tahu jawabannya. Ya, itu aku. Ternyata benar kata seseorang itu, "yang datang tidak pernah menggantikan yang pergi karena kenangan punya tempatnya masing-masing." Kita hanya tokoh yang tidak pernah diceritakan dalam satu buku. Dunia melahirkan kita sebagai manusia yang tidak akan bertemu dalam satu alur cerita. Tidak. Aku tidak pernah menyedihkannya, karena kamu tau aku bisa hidup dengan perasaanku sendiri. Sejak dulu kamu tau kalau, kita bukanlah sepasang yang bisa saling selamanya.   Satu hari diantara hari-hari yang panjang aku menapaki jalan kecil itu (lagi). Bukankah indah jika kita mengingat hal menyenangkan di masa lalu? pertanyaan yang konyol. Cerita masa lalu tidaklah menyenangkan sekalipun indah, karena cerita itu hanya terjadi di masa lal...

Tentang Hidup

Beberapa hal tidak diciptakan untuk kita rasa, beberapa cerita indah tidak masuk dalam alur kehidupan kita. Lembar demi lembar dibuka ternyata berisi daftar usaha yang tidak pernah selesai. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Bangkit. Hingga di satu waktu, kita menyerah dan bertanya kepada semesta "apakah Tuhan memang tidak memberikan cerita baik untuk hidup saya?" Perjuangan yang enggak pernah selesai, penderitaan yang bertubi-tubi, bertanggungjawab pada suatu hal yang seharusnya bukan tanggungjawab kita, memberi meskipun sedang kekurangan, membantu meskipun kita sedang butuh-butuhnya, menghadapi meskipun bernafaspun sambil menangis. Ya, barangkali seperti itulah hidup. Beberapa hal kadang terasa tidak adil. Seringkali seseorang bertanya "kenapa harus saya?" meskipun sampai matipun itu hanya jadi kalimat yang enggak pernah ada jawabnya. Ternyata benar kata banda neira, nggak semua tanya ada jawabnya, dan nggak semua pertanyaan jawabannya sekarang. Beberapa orang...

"Apa kabar" katanya

          Saya enggak tahu harus mulai cerita dari mana, karena malam itu saya benar-benar nggak tahu harus ngomong apa. Untuk pertama kalinya setelah saya sengaja menghilang, dia nyoba buat menghubungi saya lagi. Iya, dia yang saya tulis di laman tahun 2018 itu. Dia mengirimi saya pesan "apa kabar" dengan emoticon senyum. Bukannya senang saya justru menangis. Ini lebay, tapi jujur ini pertama kalinya ia mengubungi saya lebih dulu. Dia meminta maaf, saya juga nggak paham kenapa harus minta maaf. Terakhir kali saya pergi karena tau dia dekat dengan orang lain. Saya memilih buat pergi karena sadar diri sejak awal dia enggak pernah naruh perasaan dengan saya. Dan malam itu jadi pengakuan saya, pengakuan saya bahwa saya enggak pernah buat nggak ingat dia, dan selama 8 tahun saya masih dengan perasaan yang sama. Meskipun begitu ia enggak merespon apa-apa kecuali satu kata "ikuti alurnya..." dan tetap kekeh buat bilang bahwa kami cuma bisa sekedar teman.  Sa...

Absurd

Aku rasa tulisan ini bakal jadi tulisan absurd sih, sebenernya cuman mau nulis perasaanku beberapa hari terakhir. Belakangan rasanya hectic banget, deadline numpuk, praktikum bejibun, dan masih harus ngeasisten adek-adek tingkat. Ya, aku tau sih ini resiko. Emang udah kewajiban buat ngejalanin ini semua karena dari awal udah mau milih, milih kuliah di prodi sekarang, milih buat daftar asisten lagi, pada akhirnya semua kejadian yang kita alamin itu sebab akibat. Terakhir tugas yang bener bener hampir bikin nangis darah tu Metode Penelitian, dan deadlinenya barengan sama Pemuliaan Tanaman. Dua matkul yang sama-sama susahnya.  Ngomongin jadi asisten, kadang aku suka ngrasa nggak enak sama praktikan. Mereka selalu berharap kalau asisten tau segalanya, padahal nggak juga. Kayak kemarin ada yang tanya tentang suatu penyakit tanaman gitu. Ceritanya praktikan lagi jalanin praktikum Hama dan Penyakit Tanaman gitu, mereka disuruh buat identifikasi hama dan penyakit tanaman. Mereka tanya tuh ...

Finding

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah kutipan. "Beberapa orang tidak pernah berbagi kekhawatiran mereka, bahkan dengan keluarga mereka. Seolah-olah mengatakannya itu terlalu sulit. Mereka tak pernah mengatakan itu dan memendamnya dengan rapih di dalam kepala mereka sendiri. Mungkin, sampai mereka mati. Mereka membangun pondok sendiri di dalam hati mereka dan tidak pernah meninggalkan pondok itu seumur hidup mereka. Bahkan saat kesepian, mereka tidak pernah mengakuinya. Mereka lebih suka merenungkannya daripada bercerita kepada keluarganya."    Satu dua orang di dunia ini harus tumbuh sendirian. Menjadi tuan untuk dirinya sendiri. Berbagi cerita dengan kepalanya sendiri. Telinga mereka bising, isi kepala mereka ramai, dan ternyata pemikirannya yang menjadi sumber segala kalut. Beberapa orang menikmati, kesepiannya, kesendiriannya, kekosongannya. Karena mereka tahu bahwa, hanyalah diri mereka sendiri teman untuk dirinya.  Banyak hal yang tidak bisa diungkapan begitu...

20 tahun

Banyak mimpi, banyak cita-cita, banyak harapan-harapan yang sudah saya sebut-sebut selama ini, ternyata sampai sekarangpun belum terwujud juga. Satu hal yang mungkin patut saya syukuri hari ini adalah rasa ikhlas saya terhadap seseorang yang mungkin selama tujuh tahun ini menjadi tema segala keluh kesah saya. Entah bagaimana ceritanya saya bisa tersesat selama itu pada hati yang sama. Sebuah perjalanan yang entah saya sendiri juga tidak paham, bagaimana bisa sekuat itu saya bertahan. Sejatuh cinta itu saya kepada seseorang yang bahkan, mencintai dengan tulus pada sayapun tidak pernah. Memang, saya yang salah, saya yang terlalu jatuh, hingga lupa bagaimana caranya bangkit lalu pergi. Dari semua kebetulan yang saya lalui, kebetulan yang saya sesalkan adalah pernah jatuh hati denganmu.      Namun hari ini, sudah, maka saya sudahi kebodohan saya, saya akhiri penantian ini pada seseorang yang bahkan sama sekali tak pernah menunggu saya. Saya selesaikan cerita yang tak perna...